JADI AKU MAU SHARE SEDIKIT PENGALAMAN HIDUP AKU..
Aku lulusan dari SD Swakarya tahun 2012,,, waktu SD kelas 6 Guruku menanyakan perihal cita-cita, apa cita-cita yang kami ingin capai,, aku menjawab ingin menjadi "Dokter" (Ya tau sendiri anak SD gaes, cita cita yang ada di otak mereka tuh kalau gak Dokter, Polisi, Tentara) tapi guru aku bilang "jangan, biayanya mahal, bukan maksud bapak untuk merendahkan atau menjatuhkan semangat kalian, tapi untuk jadi dokter itu perlu biaya yang banyak",, kemudian aku langsung ganti keinginan, aku bilang aku pengen jadi arsitek karena basicly aku itu suka menggambar dari kecil, terus guru aku itu bilang kalau misalkan untuk menjadi seorang arsitek itu adalah suatu hal yang sama sulitnya dengan menjadi dokter,,, setelah itu guruku membagikan selembar kertas biodata dan menyuruh kami semua untuk mengisi biodata tersebut, dirumah aku bingung dong mau ngisi di kolom cita-cita itu apaa, setelah itu aku kepikiran karena aku juga punya basic berkebun dan ayah aku bilang kalau tangan aku " Dingin" Itu perumpamaan untuk seseorang yang bisa menanam tumbuhan dan tumbuhan itu bisa hidup dengan subur, nah dari situ aku langsung isi kolom tersebut bahwa aku pengen jadi "Ir.Pertanian"aku gatau profesi itu beneran ada atau gak waktu itu hhe.
Bbrapa bulan kemudian aku masuklah kesekolah menengah pertama yaitu SMP PAHLAWAN NASIONAL (aku lulusan 2015), dari situ aku membenci salah satu profesi yang Notabene nya adalah profesi yang baik,, saat itu salah satu guru menanyakan apa cita-cita yang ingin kami capai, kemudian diantara kami ada yang menjawab " Ingin menjadi guru"sontak guruku kaget dan bilang "jangan mau nak jadi Guru, karena guru itu S.Pd.(sarjana penuh derita) ". Dari situlah aku mulai tidak suka dengan satu profesi mulia tersebut, sampai aku menjudge bbrapa saudara²ku yg memiliki cita-cita menjadi seorang guru "Untuk apa belajar tinggi - tinggi kalau ujung²nya menjadi seorang guru?!!!" Ntah kenapa aku sangat tidak ingin menjadi seorang guru.
3 Tahun berlalu aku masuk kepada jenjang pendidikan yang lebih tinggi Yaitu Sekolah menengah atas, awalnya aku juga sangat membenci sekolah ini tapi tidak sebesar rasa benci ku terhadap profesi Guru dari pertama kali aku mendengar sekolah ini waktu aku Masih SD, ya aku masuk Disekolah SMA PAB 1 Medan Estate (aku lulusan 2018) , awal sekolah aku merasa tidak nyaman dengan sekolah tersebut,aku bahkan tidak menganggap bahwa aku sedang sekolah, aku hanya sedang bermain-main, seiring berjalannya waktu aku sangat menyukai sekolah ini, apapun yang dikatakan orang-orang tentang sekolahku ntah mengapa aku sangat bangga mengakui bahwa aku adalah Seorang Alumni SMA PAB1 Medan Estate, mengapa? Karena aku menemukan rumah baru disana, aku menemukan orang tua - orang tua baru yang sangat baik disana, baik guru maupun penjaga kantinnya, saudara baru yang baik yang menerimaku dengan segala kekuranganku (FYI: sampai sekarang kami masih berhubungan sangat baik) dari sana juga bakat yang kupunya berkembang, darisana pula aku menemukan kepercaya dirianku. Pada saat kelas dimulai salah satu guru menanyakan perihal keinginan pada kami "siapa yang ingin kuliah?"aku sangat ingin mengangkat tanganku waktu itu tapi aku ragu karena ditambah keadaan keluargaku yang benar-benar berada dibawah waktu itu, ayahku sakit panjang dan sampai saat cerita ini ditulis ayahku belum sepenuhnya sembuh walaupun sudah bisa bekerja, waktu itu aku merasa putus asa dan bahkan jangankan untuk berharap ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi lagi, untuk melanjutkan sekolahku saja waktu itu aku rasa aku tak mampu, aku ingin segera bekerja saja agar bisa membantu ibuku yang bekerja sendiri kala itu, menangis setiap malam karena merasa aku tidak berguna sebagai seorang anak karena saat keadaan keluargaku benar-benar berada jauh didasar aku tidak bisa melakukan apapun, ingin bunuh diri? Ya rasanya ingin mati karena beranggapan bahwa dengan aku mati aku bisa meringankan beban orang tuaku, kemudian guruku bertanya "Teguh kenapa, Teguh gamau kuliah"lalu aku menjawab "Teguh gatau buk, kalau rasa ingin kuliah itu sudah pasti ada, tapi yaudahlah buk Teguh jalanin aja, kalau bisa kuliah ya alhamdulillah kalau gabisa ya mau gimana lagi" sebenarnya rasa ingin kuliahku sudah memudar sekali, aku ingin segera tamat sekolah waktu itu, "lupakan kuliah segeralah bekerja" Kata hatiku, apapun yang akan kukerjakan yang penting aku bisa membantu keluargaku, terserah apapun itu mau itu pegawai indomaret, sales handphone, Pabrik roti terserah. Hari demi hari berlalu lalu aku mendapatkan kekuatan dari salah satu orang yang sangat berjasa didalam hidupku, aku kembali tegar dan kuat, aku bulatkan tekatku untuk kuliah meskipun ada bisikan bisikan jahat yang orang lontarkan kepadaku, menyepelekan ku, membandingkanku, menghinaku, memfitnahku, mengatai aku sombong karena aku anak orang susah tapi sok sok an kuliah, tetapi aku sangat tidak memperdulikan mereka karena menurut prinsip hidupku "Seorang Pangeran tidak pernah berurusan dengan sampah!! " Lalu kenapa aku tidak membalas perbuatan mereka? Aku beranggapan bahwa kalau aku membalas perbuatan mereka lalu apa yang membedakan aku dengan mereka, lalu apa yang membedakan manusia dan setan??! Aku mulai mencari pengalaman yang lebih luas lagi dan lagi, seperti motto yang sampai sekarang masih ku pakai "pengalaman hidup adalah sesuatu hal yang paling berharga" Dengan percaya diri yang sudah ku bangun aku mengikuti lomba Karya Ilmiah Se Kota Medan di Kantor Walikota untuk pertama kali didalam hidupku (FYI: kenapa pertama kali, karena aku paling gak PD dengan diriku, setiap kali aku ingin ikut lomba aku selalu mikir "aku hebat, ada yang lebih hebat dari aku" Dan sampai sekarang aku masih berpikir demikian "aku baik, masih ada yang lebih baik dari aku, mereka buruk? Aku lebih buruk dari mereka") hal yang tak pernah kuduga sama sekali adalah selain itu pertama kali didalam hidupku, aku juga maju presentasi pertama kali dan aku juga mendapat juara pertama. Hal itu sontak membuatku sangat senang dan membuat orang tuaku merasa bangga terhadapku, namun setiap orang² berpikir bahwa aku berprestasi semakin malu pula diriku (aku gak tau kenapa). Hal itu membuatku semakin terpacu dan ingin terus mendapat pengalaman yang lebih banyak lagi lagi dan lagi, tidak sampai disitu saja aku mengikuti lomba yang kali ini tingkat provinsi, aku sangat PD kala itu aku umbar kepada teman teman dan orang disekitarku kalau aku ikut lomba lagi, finally juri menentukan siapa pemenangnya dan aku dinobatkan sebagai Juara harapan 3, disana ada rasa kecewa dihatiku namun tidak masalah karena dari sana aku mendapatkan pelajaran "Apapun yang kulakukan tidak perlu orang lain tau karena tidak semua orang suka dengan kita dan tidak semua orang akan berdoa baik tentang kita, seperti lomba pertama, aku tidak pernah bilang ke siapapun kalau aku ikut lomba trsbut, sampai saat aku menang barulah sekolah dan org di sekitar ku tau namun disaat aku mengumbar lomba ke dua aku tidak mendapatkan juara yang ku inginkan, pelajaran ke dua yang ku dapat adalah jangan pernah berharap lebih terhadap suatu hal agar ketika kenyataan tidak sesuai yang kita inginkan kita tidak merasa sakit hati".
Hari demi hari berlalu, Segala macam ujian kelulusan aku lewati, Baik Try Out, Simulasi, UAS, UN dan kawan kawannya sudah sukses ku lewati, Hari libur ku diisi dengan belajar hingga larut malam demi pendidikan tinggi yang kuinginkan, lalu aku bertekat untuk belajar di Aceh saja bersama abangku dan teman temanku disana,, aku berangkat sore waktu itu, sebelum sampai Terminal tiba-tiba hujan turun sangat deras, aku khawatir bahwa hujan tidak akan reda setelah aku sampai di terminal dan benar saja hujan tidak kunjung reda, aku yang masih menggunakan seragam sekolah berlari secepat yang kubisa walaupun aku tau bahwa hujan tidak akan menurunkan egonya hanya demi aku dan keinginanku (kenapa aku pakai seragam sekolah? Karena waktu itu seingatku aku harus mengambil SKHUN di sekolah) tak lama sampailah aku di pangkalan bus yang mengarah ke tempat yang akan ku tujui, ku akui kalau aku nekat waktu itu, kenapa aku nekat? Karena pada masa itu aku dalam keadaan basah kuyup dan handphone ku yang sudah mati total ditambah aku tau bahwa aku bakal sampai disana malam malam sekali apalagi dengan keadaan mataku yang rabun jauh dan aku tidak memakai kacamata karena kacamata ku patah membuatku tidak dapat melihat sudah sampai dimana aku !? Buss pun mulai berjalan,,,orang orang mulai berkurang karena sudah sampai tujuannya skrg hanya ada 3 orang didalam bus itu rasaku, busnya gelap karena tidak ada lampu penerangannya (bus kecil) aku merasa aneh pada tubuhku, kenapa mataku ada kunang-kunangnya? Kenapa badanku menggigil? Aku sangat lemas, aku ingin menangis, hanya tas ku yang bisa ku andalkan untuk menghangatkan tubuhku kala itu, ku pegang erat erat tas ku walaupun aku tau bahwa tas ku tidak banyak mengurangi rasa dingin yang membelai tubuhku, jalannya gelap di kanan kiri jalan hanya ada pohon pohon rimbun kebun kelapa sawit milik orang, aku tidak tau dimana aku, lalu aku sudah menandai satu hal tentang jalan tersebut "jika sudah mau sampai persimpangan jalan, jalannya menanjak sedikit" Kemudian aku ingat aku dimana, aku sengaja melewati simpang untuk memastikan bahwa aku benar - benar sudah sampai, aku melihat disana ada pertamina dan indomaret yang saling berhadapan walaupun di potong oleh jalan lintas, aku tau aku sudah sampai!! "Di indomaret ya pak" Kata ku. Aku senang karena aku sudah sampai dan tidak tersesat, bangga karena bisa menebak jalan hanya dengan firasat, kemudian turunlah aku di depan indomaret tersbut berjalan kecil menuju persimpangan jalan, samar-samar kuliat abangku sudah menungguku disana betapa senang hatiku karena aku tidak perlu menunggu lama lagi, karena untuk sampai ke rumah aku harus masuk kedalam sekitar 30 menitan lagi dengan motor, itulah alasan mengapa aku membenci perjalanan jauh, beberapa hari disana aku mulai belajar dengan teman²ku belajar mengenai apa apa saja yang akan kami hadapi di SBMPTN nnti (btw aku gak lulus SNMPTN) aku harus belajar sampai larut malam demi menggapai impianku, hari demi hari ku lewati akupun pulang ke Medan untuk menjalankan ujian, karena kebetulan aku juga mendapatkan tempat ujian di Medan yang letaknya di YASPENDHAR (YAYASAN PENDIDIKAN HARAPAN) diruangan tersebut ada 100 orang peserta ujian, setelah ujian berlangsung aku tidak merasa ada halangan yang berarti di kertas ujianku, hanya saja aku merasa kecewa dengan beberapa peserta lain didalam ruangan itu, kenapa mereka mengeluarkan contekkan rumus rumus dll dari kotak pensil mereka, sedangkan aku harus mati matian belajar untuk ini!!? Aku kesal sekali dengan mereka, bbrapa minggu berlalu, hal yang ku tunggu-tunggu pun tiba yakni pengumuman hasil Ujian kemarin,, ternyata hasilnya sangat tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan,, aku sama sekali tidak lulus di kampus yang Kuinginkan (UNIMED) tapi abangku menguatkanku, masih ada cara lain agar aku bisa kuliah yakni UMPTKIN (adalah seleksi calon mahasiswa yang dilaksanakan secara nasional oleh seluruh Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) secara terpadu) namun aku sudah tidak ada rasa semangat lagi waktu itu, apalagi di tambah dengan pandanganku terhadap kampus UINSU yang selalu ku bandingkan dengan UNIMED dan memang aku sama sekali tidak punya basic dalam bidang agama (FYI: dulu aku sangat tidak suka dengan UINSU). Kembalilah aku ke Aceh lagi Untuk belajar, sampai Bulan Ramadhan tiba, hari pertama Ramadhan aku pulang ke Medan karena ku ingin puasa pertama bersama ibu dan ayahku,barulah hari ke3 aku kembali lagi Ke Aceh dengan niat untuk belajar, Hari demi hari berlalu akhirnya Ujian tersebut di Mulai, aku ditempatkan di Universitas daerah Kota Langsa waktu itu, masih dengan keadaan puasa bersama ke3 temanku (Caca, Adun,Dicky) yang juga ujian di tempat yang sama (FYI: sehari sebelum ujian aku dan temanku harus mencari tempat tinggal di dekat sana supaya tidak terlambat waktu ujian) "NB: aku sangat berterimakasih kepada teman abangku "Buk Yuni"(Bundanya caca) yang telah menerimaku dengan baik dirumahnya". Malam setelah kami sampai dirumah beliau kami semua diajak berkeliling sejenak untuk menikmati keindahan kota langsa, waktu itu kami semua bolos tarawih (jangan di contoh) dan benar saja kota langsa itu kota yang indah, bersih, penuh cahaya dimalam hari dan hal tersebut menjadi salah satu kenangan yang sulit dilupakan didalam hidupku.
Malam hampir larut, kamipun pulang kerumah untuk beristirahat agar tidak kesiangan nantinya,,, " Sahur, sahur" Suara bersahutan dari mesjid satu kemesjid lainnya, kami semua terbangun dengan hidangan nikmat yang sudah disiapkan oleh buk Yuni, canda tawa turut menghiasi waktu sahur kami, setelah sahur kami pun segera bersih² dan menyiapkan segala hal yang kami butuhkan untuk ujian, kami sangat tidak sabar untuk menghadapi ujian tersebut sehingga kami datang sangat pagi sekali ke lokasi ujiannya (masih sepi) ujian kulewati dengan senang hati karena memang ujian ini sangatlah mudah bagiku, aku sudah selesai sebelum waktunya habis. Setelah ujian selesai aku dan teman²ku berinisiatif untuk berjalan jalan ke tempat wisata di kota langsa tersebut yakni Hutan Mangrove, sesampainya disana betapa kecewanya kami semua karena tempat tersebut tidak/belum dibuka, kemudian kami langsung tancap gas untuk pulang kerumah, didalam perjalan pulang kerumah hujan turun dengan derasnya, aku dan Adun yang berada di paling depan berhenti di pinggir jalan untuk mengamankan benda benda yang bisa hancur saat basah sekaligus menunggu hujan reda, setelah berapa lama dan hujan tak kunjung reda kami memutuskan untuk menerobos hujan lebat tersebut, aku merasa senang sekali waktu itu karena sudah lama aku tidak bermain dengan hujan namun di satu sisi aku ingat bahwa aku sedang puasa.. tak lama sampailah kami semua di rumah, dengan keadaan basah kuyup, didalam kami mengganti baju, berbenah dan sedikit istirahat sembari menunggu hujan reda,, hujanpun reda dan kami memutuskan untuk pulang kerumah kami semua di Aceh Tamiang, setelah beberapa hari disana akupun memutuskan untuk segera pulang ke Medan karena sudah sangat merasa rindu kepada Ibu dan ayahku juga merasa tidak baik meninggalkan orang tuaku dalam keadaan sakit.
Hari demi hari berlalu,, tiba tiba *ding* abangku mengirim sebuah foto, foto tersebut adalah foto informasi bahwa aku lulus masuk di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) dengan Jurusan Pendidikan Ilmu pengetahuan sosial, Uang Kuliah sebesar 400 ribu rupiah, aku yang tanpa ekspresi namun mengeluarkan air mata kala itu bingung harus senang atau sedih, aku tidak tau harus berbuat apa karena pada dasarnya aku sangat tidak ingin menjadi seorang guru tapi kenapa aku harus mendapatkan jurusan pendidikan?dan kenapa juga harus IPS? (FYI: Waktu SMA aku sangat tidak memandang IPS sama sekali) (FYI: aku gatau jurusan apa saja yang aku pilih disini karena setelah gagal di SBM aku sudah masa bodo dengan apapun itu, dan yang memilih setiap jurusan itu bukan aku tapi abangku). Aku teguhkan hatiku untuk menjalani dan coba menerima hal yang sudah Tuhan berikan padaku, akupun mulai melewati hari hari kuliahku disana walaupun ada sedikit masalah yang harus dihadapi ditambah lagi aku semasa SMA itu Jurusan IPA (atom, molekul, asam basa, Lamark dkk) harus berhadapan dengan IPS (sosial, masyarakat, August Comte, Carl Mark dkk) membuat aku beranggapan "dimana aku sekarang" Namun tetap kujalani walau sedikit ada rasa ingin menyerah, semester 1 sudah ku lewati dengan perolehan IPK 4.00, kemudian masuklah ke semester 2 dimana aku sudah merasa nyaman dengan kampusku dan jurusanku dimana aku tidak lagi malu mengakui kampusku, dimana aku tidak lagi merasa salah dengan jurusanku, aku bangga dengan UINSU karena telah memberikanku pelajaran yang berharga. Aku juga tidak membenci Profesi guru lagi, bahkan aku ingin cepat cepat menjadi guru, mencerdaskan anak anak bangsa, membagi ilmu dengan mereka karena saat ini yang ada di otakku adalah "Tanpa seorang guru, tidak ada dokter, polisi, Tentara dan profesi lainnya, ya walaupun aku tidak bisa menjadi seorang dokter seperti keinginanku waktu di sekolah dasar dan menolong orang orang yang sakit, setidaknya aku bisa memanusiakan manusia agar menjadi manusia, aku bodoh karena dulu aku membenci Profesi Guru"
Pelajaran yang bisa di petik dari sini adalah:
1. Jangan pernah membenci apapun, karena bisa jadi hal yang kau benci akan menjadi sesuatu yang berharga didalam hidupmu.
2. Berusaha lah untuk masa depan dan cita - citamu.
3. Jangan pernah menyerah dengan keadaan hidupmu.
4. Jangan dengarkan orang² yang ingin membuatmu jatuh.
5. Selalu berfikir positif terhadap apa yang kau hadapi.
6. Ingatlah siapa orang² yang membantumu disaat kau susah agar suatu saat kau bisa membalaskan kebaikan mereka.
7. Lakukan yang terbaik untuk dirimu dan orang orang disekitarmu yang kau cintai.
8. Jalani saja hidupmu karena Tuhan tidak pernah memberikan Hal yang kita inginkan tapi Tuhan akan memberikan hal yang benar-benar kita butuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar